Jumat, 03 Juni 2011

HAntaran Pengantin Melayu Sumatera Utara


Hantaran pengantin melayu sumatera utara
Oleh: Dra. Rafika Johani Amroeni

1.                  Pendahuluan
Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri atas berbagai macam suku; ras; keyakinan, dan adat istiadat. Salah satu suku bangsa yang ada di negara kita adalah  melayu dengan beragam adat-istiadat dan kebudayaannya. Suku Melayu pada umumnya tersebar di bagian pesisir pulau Sumatera.
Salah satu etnis yang terdapat di Sumatera Utara adalah  etnis Melayu yang umumnya beragama Islam. Menurut pakar dunia Melayu, secara geografis keberadaan suku Melayu ini tersebar di berbagai tempat di Sumatera Utara, misalnya Melayu Langkat, Melayu Deli dan Serdang, Melayu Asahan, Melayu Labuhan Batu. Namun pada masa sekarang ini hampir semua suku Melayu yang terdapat di Sumatera Utara mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Melayu Deli. Menurut salahs seorang pakar dunia Melayu Koil Durn Drs. Aminuddin Simbolon Al-Haj SH yang mengatakan “orang Melayu ialah mereka yang beragma Islam, yang bahasa sehari-harinya  mengunakan bahasa Melayu dan melaksanakan adat budaya Melayu.

Sebagaimana suku-suku yang ada di Nusantara ini, maka orang Melayu juga memiliki adat-isitadat dan kebudayaanya sendiri. Sebagai orang yang pada umumnya Muslim, maka adat budaya Melayu identik dengan unsur-unsur keagamaan. Sehingga adat budaya mereka selalu mengacu kepada ajaran agama Islam sebagai agama yang dianutnya. Konsekuensi logisnya adalah  adanya penyesuaian-penyesuaian dalam berbagai hal dalam melestarikan adat budaya mereka. Secara garis besar, adat dan budaya Melayu yang sampai sekarang masih terjaga dengan baik terkait dengan peristiwa-peristiwa panting dalam siklus kehidupan manusia seperti kelahiran, khitanan atau dalam tradisi Melayu disebut sunat rasul, upacara perkawinan, dan kematian.
2.      Adat Hantaran Perkawinan Melayu
Pada kesempatan ini akan dibahas tentang Hantaran Perkawinan Melayu yang merupakan salah satu bagian penting yang menyertai serangkaian upacara pernikahan menurut adat budaya Melayu. Rangkaian upacara dan adat istiadat perkawinan  Melayu yang biasanya dilalui oleh sepasang mempelai pengantin sebelum, selama, dan setelah pernikahan meliputi:
1.      Merisik dan Penghulu Telangkai (Meresik tak resmi dan Meresik resmi)
2.      Jamu Sukut
3.      Meminang (Ikat Janji dan tukar tanda)
4.      Mengantar Bunga Sirih
5.      Berinai: Berinai Curi; Berinai Tengah; Berinai Besar
6.      Akad Nikah
7.      Berandam dan mandi berhias
8.      Bersanding (Tepung tawar dan Nasi hadap-hadapan (Astakona atau Setakona, pemberian  cemetuk).
9.      Mandi berdimbar I
10. Lepas halangan
11. Mandi Berdimbar II atau mandi selamat(pemberian cemetuk II)
12. Meminjam pengantin.
Yang perlu ditegaskan di sini adalah  bahwa di antara berbagai ragam upacara tersebut  hanya pada acara Peminangan, Mengantar Bunga Sirih, Akad Nikah, Bersanding  dan Meminjam Pengantin yang menggunakan Hantaran.


1.      Merisik dan Penghulu Telangkai
Merisik adalah  sebuah upaya dari seorang calon pengantin lelaki dalam mendekati calon istri yang masih belum diketahui apakah sang calon sudah memiliki calon lain atau belum. Biasanya dilakukan oleh ibu-ibu yang dijadikan utusan untuk  merisik.
Penghulu Telangkai adalah  utusan dari calon pengantin laki-laki kepada orang tua calon istri untuk  menanyakan hal-hal yang disepakati untuk  dipersiapkan ketika acara peminangan nanti.
2.      Jamu Sukut
Jamu sukut ialah acara memberikan jamuan makan yang disediakan oleh orang tua calon pengantin yang diperuntukkan bagi kaum kerabat dan tetangga terdekat. Tujuan acara tersebut adalah  untuk memberitahukan acara peminangan dari pihak laki-laki untuk meminang calon istri (pihak yang menerima pinangan), jamuan makan ini diadakan oleh orang tua calon pengantin perempuan sambil mengharapkan juga bantuan moral dan material dari keluarga, serta kaum kerabat terdekat. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban persoalan yang  dihadapi  pihak orang tua calon mempelai perempuan. Sejak itu yang empunya kerja (tuan rumah) hanya memperhatikan proses kerja; menyediakan bahan dan hal-hal yang diperlukan. Sedangkan pelaksanaan dan tanggungjawab atas lancarnya pekerjaan diserahkan kepada anak beru dan famili lainnya.
Setelah selesai jamu sukut, maka pihak laki-laki( juga pihak perempuan) mengabari (mengundang) segala famili dan handai tolan. Sewaktu mengundang diwajibkan membawa tepak sirih yang dibungkus dengan kain.
3.                  Meminang
Pelaksanaan acara meminang ini diadakan setelah ada kata sepakat dari kedua belah pihak. Pada hari yang ditentukan, serombongan pihak laki-laki yang dipimpin anak beru dan orang tua yang berpengalaman dalam hal adat perkawinan datang kerumah calon pengantin perempuan. Penghulu telangkai ikut serta sebagai saksi, sebab dialah penghubung resmi dahulu. Anak gadis tak dibenarkan ikut ataupun janda-janda muda.
Juga orang tua (mak dan ayah) dari kedua belah pihak tidak boleh hadir, hanya famili dengan familiah yang berhadapan, terutama “anak beru”, yaitu menantu laki-laki dan perempuan. Anak beru atau “orang semenda” (semando) mengepalai tiap-tiap peralatan adat sesuatu keluarga. Biasanya yang tertua ataupun yang terpandai diantara mereka jadi pimpinan.
Utusan ini membawa misi, agar calon pengantin perempuan setuju diikat secara adat dalam menuju jenjang perkawinan dengan calon pengantin laki-laki. Hal ini perlu disampaikan kembali di depan orang banyak, agar jangan sampai terjadi salah paham dikemudian hari.
Dalam acara  meminang ini, pihak laki-laki datang membawa tepak sirih sebanyak lima tepak, yaitu:
1)                 Tepak sirih pembuka kata
2)                 Tepak sirih merisik
3)                 Tepak sirih meminang
4)                 Tepak sirih bertukar tanda
5)                 Tepak sirih ikat janji dan beberapa tepak sirih pengiring. Adakalanya 7 buah atau lebih menurut tingkat kedudukan.
Dari perempuan telah menanti tiga tepak sirih, yaitu :
1)                 Tepak menanti
2)                 Tepak ikat janji
3)                 Tepak tukar tanda
Proses pemberian tepak ini selalu diiring dengan pantun.
Jika kedua belah pihak telah berhadapan, maka oleh pihak perempuan disorongkan sebuah tepak sirih (Sirih Menanti) kepada pihak tamu keluarga laki-laki sebagai penyambut tamu sambil berkata :
“Sedang matahari bersinar terang
 Sedang angin berhembus sepoi
Sedang awan berarak megah
Sedang burung riang gembira
Dilihat tamu datang menjenguk
Kedalam gubuk yang serba kurang
Membuat kami bersuka cita.
“Harus disambut secara adat
diiringi dengan tepak sirih.
“oleh sebab itulah, tuan-tuan
Sirih nanti kami sorongkan

Diiringi dengan pantun :
“Mahat kisah laman genang
“Mahat rumah bilal lada
Makan sirih sekapur seorang
Itulah mula asal kata”.
Pihak laki-laki memakan sirih tersebut kemudian menyorongkan sebuah tepak pembuka kata yang telah dibuka, dengan hulu (gagang) sirihnya menuju pihak perempuan sambil berpantun :
“Kami datang membawa pesan
Salam takzim penuh keichlasan
Dari keluarga  yang jadi pangkalan
Semoga kita dalam lindungan tuhan “.
“Tinggi-tinggi si matahari
Anak kerbau mati tertambat
Sudah lama kami mencari
Tempat berteduh dihujan lebat”.
Waktu menyorongkan tiap-tiap tepak haruslah hati-hati, jangan ekor sirih yang tersorong lebih dahulu.  Tepak sirih yang dari pihak laki-laki diedarkan oleh pihak perempuan kepada bagian mereka sambil masing-masing mengambil sirih sekapur atau pihak sekacip.
Kemudian oleh pihak laki-laki disorongkan pula Tepak Merisik sambil berkata: “Datuk, jauh sudah perjalanan kami, bayak lembah yang telah dituruni banyak bukit telah didaki, karena hajat kami kemari.”
Setelah  berbeka-beka sekian lamanya akhirnya tentu ada penyelesaia  sesuatu, terutama tatkala pihak laki-laki mengutarakan kehendak kedatangannya, maka seluruh hadirin mendengarkan dengan penuh perhatian dan sopan santun.Secara resmi pihak perempuan bertanya siapa kira-kira pihak calon yang meminang, siapa gadisnya  yag hendak dipinang, apakah calon mempelai laki-laki sehat dan tiada cacat. Akhirnya segala sesuatu diterima oleh pihak perempuan. Merekapun mulailah memakan sirih risik  yang dari tadi belum diusik-usik.
Setelah  risik diterima, maka pihak laki-laki menyodorkan kepada pihak perempuan tepak peminang  dan pihak perempuan setelah mendengar ikrar janji laki-laki lalu menerima sirih peminang tersebut dan disodorkan pula ke ruangan belakang agar dicicipi oleh kam wanita.
Setelah ini selesai, maka pihak laki-laki mengeluarkan sebentuk cincin, yang telah dimasukkan dalam sebuah tempat yang indah berhias dan disertai oleh sebuah tepak bertukar tanda, langsung diserahkan kepihak perempuan. Demikian juga pihak perempuan menyorongkan sebuah tanda benda berharga dalam baki yang telah berhias pula disertai tepak bertukar tanda. Tanda ini boleh berupa cincin ataupun perhiasan lain.
Setelah  bertukar tanda, maka pihak laki-laki menyorongkan pula sebuah tepak ikat janji, untuk memperbincangkan dan menentukan:
1.                  Hari nikah
2.                  Mengantar sirih besar
3.                  Hari mengantar mas kawin
4.                  Hari bersanding
5.                  Jumlah besarnya mas kawin
6.                  Adat-adat lain yang dipakai
7.                  Syarat-syarat seperti yang diuraikan diwaktu meminang

4.                  Mengantar bunga sirih
Tujuan mengantar bunga sirih adalah untuk meramaikan suasana iring-iringan dari pihak laki-laki ke rumah pihak perempuan. Jumlah bunga sirih dapat menunjukkan banyaknya keluarga dan kerabat pihak laki-laki.
Tepak bunga sirih dibuat bermacam-macam bentuk yang indah dan beraneka ragam warna . Misalnya bentuk burung,bunga, rumah,buah, binatang dan lain-lain. Biasanya di dalam bunga sirih ini diletakkan secarik kertas yang berisi pantun atau kata-kata sindiran yang manis yang ditujukan kepada kedua mempelai.Namun seiring berjalannya waktu bunga sirih ini berganti dengan benda-benda yang lebih bermanfaat seperti: alat sholat, pakaian,peralatan mandi, buah, makanan yang juga dibentuk dengan berbagai bentuk yang indah dan cantik ,hal ini mungkin disebabkan zaman sekarang sulit mendapatkan sirih yang banyak untuk dirangkai, dan juga zaman sekarang jarang orang yang mau makan sirih seperti orang-orang dahulu sehingga apabila dipaksakan dibuat maka sirih-sirih tersebut akan terbuang percuma,perubahan ini dapat  diterima suku melayu sebab sesuai dengan semboyan orang melayu “Sekali air bah sekali tepian berubah”maksudnya suku melayu dapat menerima perubahan selagi tidak melanggar syariat agama dan adat.
Orang tua pengantin laki-laki meminta kepada para famili dan handai taulan untuk membuat tepak bunga sirih untuk diantar ke rumah pihak perempuan sebelum acara bersanding dimulai.
5.      Berinai
Upacara berinai diadakan sehari sebelum menikah di rumah pengantin masing-masing dan dihadiri oleh famili dan rekan-rekan sejawat terdekat dari kedua  calon pengantin.ada tiga upacara berinai yaitu berinai curi, berinai tengahan  dan berinai besar.
6. Akad nikah
Akad nikah biasanya diadakan pada pagi hari, calon pengantin laki-laki diantar oleh keluarga dan famili ke rumah pihak perempuan untuk mengucapkan akad nikah. Hantaran yang dibawa pada akad nikah:
1.      Uang mahar seperti yang telah dijanjikan dan biasanya uang mahar dinaikaan atau ditambah juga pada waktu nikah. Uang mahar dibungkus dalam kain tiga lapis atau sampai sembilan lapis yang berlainan warna dengan ditambah sedikit bertih, beras kuning dan bunga rampai.
2.      Uang  tambahan dibungkus dan diikat dengan benang perca warna-warni diikat dengan simpul hidup. Kemudian uang yang telah dibungkus itu dimasukkan ke dalam “cepu” atau peti kecil dan cepu ini dibungkus pula baik-baik dalam sehelai kain panjang dan setelah itu diletakkan di atas sebuah dulang kecil “semerip” namanya. Uang mahar ini digendong sewaktu dibawa ke rumah pihak perempuan dengan penuh kasih sayang seperti menggendong bayi laiknya.
3.      Pahar berisi pulut kuning dan panggang ayam.
4.      Tepak nikah yang di dalamnya dimasukkan sebagian upah nikah untuk tuan kadi yang biasanya dibayar oleh kedua belah pihak.
Pada kesempatan yang sama pihak perempuan juga mempersiapkan tepak sirih dan pahar berisi pulut kuning dan panggang ayam yang akan dipertukarkan dengan hantaran dari pihak laki-laki.
Jika rombongan pihak laki-laki telah sampai maka pengantin laki-laki didudukan di sebuah tilam yang  di atasnya dibentangkan tikar.
Tepak sirih nikah, pulut kuning dan bungkusan uang mahar berada di tengah-tengah majelis. Kemudian tuan rumah menyodorkan tepak sirih  penyambut untuk dimakan dan mulailah acara berpantun untuk pengantar nikah, setelah itu maka oleh anak beru dari pihak perempuan dibukalah bungkusan uang mahar secara cermat dan hati-hati dan dihitung jumlah isinya jika telah cukup maka oleh famili yang tua-tua bergantian maksudnya agar perkawinan itu nanti mendapat kekekalan dan keselamatan seperti perkawinan orang tua-tua dulu, kemudian uang diserahkan kepada ibu bapak pengantin  perempuan.
Setelah itu mulailah ijab kabul dilaksanakan, jika akad nikah telah selesai  dibacakan doa dan makan bersama.Lalu pihak laki-laki pulang  dengan membawa pahar pulut kuning dari pihak perempuan serta alat-alat lainnya seperti” benda tanda” yang diserahkan dulu.
6.      Berandam dan mandi berhias
Upacara berandam dilakukan dirumah pengantin perempuan. Calon pengantin perempuan digunting rambutnya sedikit-sedikit  agar cantik didandani dan dengan pisau cukur lalu pengantin diandam  atau dikerik rambut-rambut halus yang ada di wajah setelah itu pengantin mandi berhias yaitu mandi dengan air wangi-wangian. Setelah itu bersiap-siap untuk didandani. Pengantin laki-laki  juga berandam.
7.      Bersanding
Pelaksanaan upacara bersanding diadakan di rumah pengantin perempuan. Pengantin perempuan telah dirias dengan memakai sanggul tegang dan menggengam sirih genggam kemudian naik ke tas pelaminan dan ditutup tabir. Pihak laki-laki yang terdiri atas kerabat dekat ikut serta untuk mengantar pengantin laki-laki yang telah memakai destar dan menggenggam sirih genggam. Hantaran yang dibawa pada acara bersanding:
1.      Balai
2.      Tepak sirih penyongsong
3.      Bunga sirih
4.      Nasi besan (nasi dengan lauk pauknya)
5.      Sebaki tabur taburan (beras putih, beras kuning, bertih, bunga rampai)
6.      Tujuh buah telur ayam mentah (telur aluan)
7.      Sisa uang hantaran
8.      2 Uncang uang ampang pintu
9.      2 Uang buka kipas, yang dibungkus di dalam uncang kuning oleh kedua anak beru perempuan dan laki-laki.
Ketika sampai di halaman rumah pengantin perempuan rombongan pengantin laki-laki  didahului oleh anak beru sebab ketika akan memasuki rumah pintu dihempang  dengan sehelai kain yang disebut batang dan dijaga oleh anak beru laki-laki pihak perempuan sementara pihak tuan rumah menaburkan bertih dan beras kunyit kepada rombongan pengantin laki-laki. Di zaman dahulu dalam perkawinan raja-raja sebagai pengganti beras kuning  adalah ambor-ambor (guntingan tipis yang terbuat dari perak dan emas)., setelah berdebat berpantun maka diserahkanlah uang hempang pintu. Setelah itu dipenuhi maka barulah rombongan laki-laki diizinkan masuk ke rumah tapi dekat pelaminan terhalang lagi karena adanya hempang kedua yang dijaga oleh anak beru perempuan dari pihak perempuan setelah berdebat berpantun maka uang buka kipas diserahkan, setelah itu dipenuhi tabir pun dibuka dan pengantin laki-aki diperkenankan naik ke pelaminan duduk di sebelah pengantin perempuan.
Setelah buka kipas maka sirih genggam pun dipertukarkan antara pengantin laki-laki dan pengantin perempuan  dan 7 telur aluan diserahkan pada pihak perempuan. Keluarga laki-laki pun juga menyerahkan semua hantaran yang dibawa. Lalu dilakukan upacara tepung tawar oleh ahli famili dari kedua belah pihak yang jumlahnya haruslah ganjil dan untuk yang menepungtawari diberilah bunga telur cecak. Setelah semua selesai, maka kedua pengantin  dibawa turun untuk mengikuti acara nasi-hadap-hadapan atau astakona.
Pada upacara nasi hadap-hadapan atau astakona ini pengantin akan didudukkan di depan sebuah dulang  yang berisi nasi beserta lauk pauknya. Di dalam nasi tersebut disembunyikan ayam panggang yang nantinya akan diperebutkan kedua pengantin. Menurut kepercayaan orang Melayu, pengantin yang berhasil mendapatkannya lebih dulu, menjadi pertanda bahwa dia akan lebih berperan dalam mangarungi rumah tangga. Di samping itu, untuk  lebih menyemarakkan dan memeriahkan suasana pada acara itu,  disediakan  berbagai macam makanan dan buah buahan yang telah diukir atau dihias dengan bagus. Begitu juga disediakan berbagai kue; halwa atau manisan yang lezat-lezat. Pada zaman  dahulu ragam hidangan ini tak kurang dari 100 macam hidangan. Setelah acara ini selesai lalu pengantin memasuki kamar dan oleh pengantin laki-laki diberilah sebentuk cincin atau perhiasan lain  yang dipakaikan langsung oleh pengantin laki –laki ke pengantin perempuan, pemberian ini disebut cemetuk. Lalu keduanya keluar kamar untuk menemui orang tua dan kerabat yang dituakan dari pihak istri sambil menyembahkan sirih dalam tepak.
10. Mandi Berdimbar (Mandi Bergumba)
Pada adat Melayu yang terdapat di Deliserdang acara mandi bedimbar diadakan dua kali, terutama untuk kalangan bangsawan. Pertama mandi berdimbar selepas bersanding dan kedua sehabis halangan. Mandi bedimbar artinya mandi berhias dan kepercayaan itu diperoleh dari sisa-sisa agama Hindu. Setelah upacara ini kedua mempelai menghadap orang tua perempuan dan keluarga dekatnya, pada saat itu diberilah macam-macam hadiah cemetuk dari tutur yang lebih tua sampai yang muda kecuali tutur adik.
10. Lepas halangan .
Lepas halangan disini dimaksud adalah setelah kedua pengantin melakukan hubungan badan yang dibuktikan dengan tanda perawan pada sehelai kain berwarna putih yang sebelumnya  telah dibentangkan di atas kasur pengantin, dan tanda itu diedarkan kepada mertua perempuan dan kelurga dekat pihak laki-laki, jika segala sesuatunya selamat, maka pihak laki-laki mengantarkan ke rumah pengantin perempuan satu talam yang berisi makanan  yang belum dimasak:
1.      Tiga buah kelapa yang tak berlubang (yang menandakan bahwa sang istri benar-benar perawan sejati)
2.      Seekor ikan kering besar (daging)
3.      Sepiring pulut kuning dengan juadah-juadahnya.

Selanjutnya pihak perempuan mengirimkan balasan serupa yang disebut naik halangan.

11. Mandi berdimbar II

Selanjutnya mandi berdimbar diulangi lagi karena lepas halangan yang dinamai mandi selamat, upacaranya serupa dengan mandi berdimbar pertama, selepas mandi pengantin laki-laki memberikan lagi cemetuk ke-2  kepada pengantin perempuan.

12.   Meminjam pengantin.
Pada hari yang sudah ditentukan maka orang tua pengantin laki-laki mengutus anak beru laki-laki dan perempuan dari pihak pengantin laki-laki meminjam pengantin ke rumah ibu-bapa pengantin laki-laki dan pengantin membawakan untuk mertua:
1.      Kue-kue
2.      Tilam dan bantal
3.      Satu balai nasi kuning.
Secara simbolik tuan rumah menyerahkan kepada menantunya asam, garam, beras, lesung, dan alat-alat memasak dengan maksud bila berada di rumah mertua agar menantunya mau ikut turun ke dapur. Setelah diadakan upacara tepung tawar, malamnya dilakukan Mebat, yaitu pengantin mengunjungi kaum kerabat pihak laki-laki sambil membawa tepak sirih dan makanan dan pihak kerabat memberikan cemetuk kepada kedua pengantin. Setelah tiga malam atau menurut perjanjian maka pengantin diantar kembali ke rumah pihak perempuan dan pengantin perempuan menerima  dari mertua 
1. Tilam dan bantal
2. Satu balai nasi kuning
3. Kue bermacam-macam
4. Alat-alat pakaian
5. Alat-alat perhiasan
6. Alat-alat rumah tangga.
 Selesailah seluruh upacara per kawinan.


4.      Makna Berbagai Benda Hantaran Adat Dalam Proses Perkawinan

1.      Tepak sirih: bagi orang Melayu sirih dengan perencah tambahannya  merupakan suguhan yang paling utama sebab sebagai alat komunikasi kata-kata dan perbuatan. Tepak terbuat dari kayu  berbentuk segi empat, seperti peti kecil. Jika tepak sirih berbentuk kecil di atas besar ke bawah disebut tepak sirih Palembang. Biasanya di dalam tepak sirih berbentuk kotak-kotak untuk mennempatkan perencah sirih, ada juga cerana tempat sirih terbuat dari perak, kuningan, suasa, besi dan juga yang terbuat dari kaca, tempat meletakkan perencahnya disebut cembul. Biasanya cerana ini digunakan oleh raja dan keturunannya.

Makna sirih dan perencahnya:
Sirih: berarti semangat dan keberanian; Gambir berarti keuletan; Kapur berarti kesucian; Pinang berarti hati yang terbuka lurus; Tembakau berarti memabukkan Dari arti lambang itulah kemudian dikenal istilah sekapur sirih. Sekapur sirih itu bisa dimakan untuk menjadi perangsang, penangkal setan, obat yang disemburkan dan untuk jampi-jampi.

2.      Balai
Balai berupa meja kecil bertingkat, berkaki empat, tinggi kaki lebih kurang 40 cm. Kotak balai berbentuk segi empat;  segi lima; segi enam atau segi delapan tinggi tiap tingkat lebih kurang 10 cm. Jumlah tingkatan balai selalu ganjil, 1, 3, 5, 7 dan 9. Ketinggian tingkat sebuah balai melambangkan kedudukan dan posisi yang memiliki balai. Semakin tinggi tingkatan balai, menunjukkan semakin tinggi pula kedudukan yang mempunyai acara. Pada masa sekarang ini, ketinggian tingkat balai hanya sampai pada tiga tingkat. Balai tersebut berisi pulut kuning.  Di tengah-tengah balai diletakkan ayam panggang dan dipacakkan bunga kemuncak, di tingkat kedua dipacakkan bunga telur dan  tingkat yang paling bawah di pacakkan merawal atau bendera. Khusus warna balai ini untuk kalangan raja dan bangsawan hanya ada kuning dan putih. Kuning untuk upacara perkawinan, menyambut tamu dan lain-lain. Putih untuk upacara khataman, naik haji. Namun untuk rakyat biasa balai ini boleh berwarna warni. 

Makna yang terkandung dalam alat-alat pada balai ini:
Pulut kuning berarti lambang kesuburan dan kemuliaan
Panggang ayam berarti lambang pengorbanan
Telur ayam berarti lambang keberhasilan, keturunan, perkembangan, kejayaan.
Bunga kemuncak berarti  lambang pelindung, pengayom, pemimpin, kukuh dan jaya .
Bendera atau merawal berarti  lambang persatuan, kehormatan, kemuliaan.

3.      Tepung tawar atau penabur
Bahan-bahan yang dipergunakan dalan tepung tawar mempunyai makna dan banyak sifat zat hidup dan mengandung sifat kekuatan gaib.
Bahan dan maknanya:
a. Bertih berarti perkembangan
b. Beras putihberarti kesuburan
c. Beras kuning berarti kemuliaan
d. Tepung bedak berarti kebersihan
e. Bunga rampai berarti keharuman dan persatuan

Alat perenjis:
Air sejuk berarti kejernihan
Jeruk purut berarti membersihkan
Daun sedingin berarti penyejuk tenang dan sehat
Akar lenjuhang berarti pemagar, semangat panjang umur
Daun jejurun+akar berarti panjang umur
Rumput pepulut berarti lekat kebaikan, kekekalan
Daun setewar berarti angkal, perisai yang bersifat gaib
Rumput sambau+akar berarti pertahanan, keteguhan
Daun sipenuh berarti rezeki (daun yang membalut semua daun dan rumput)

4.      Macam Makanan dan Kue Melayu

Makanan dan kue Melayu sangat banyak ragamnya dan umumnya enak dan lezat cocok untuk lidah orang Asia. Beberapa macam makanan dan kue Melayu yang sampai sekarang masih sering disuguhkan di antaranya:
Anyang (pakis, ayam, umbut pisang, udang, dll); Ayam masak putih; Ayam masak chago; Gulai darat; Pekasam (kepah, meman, durian); Pajeri nenas; Pindang; Rendang kepah; Roti jala; Bubur pedas; Bubur lambuk; Nasi ulam deli; Nasi tomat; Nasi minyak; Pais ikan; Sup emping padi; Sembam; Senat; Kue kue dan Manisan; Halwa masekat; Kekara; Lempeng putih; Lubuk haji pantai surga; Makmur; Pacis; Paniaram; Putuh daun; Serikaya deli ,Siti jahore; Seri muka; Raden galuh; Rasidah; Tumpur bandar; Tengguli durian; Cucur badak; Lengkong kering; Halwa mergat, pala, cabe, pepaya, terong dll.





DAFTAR  PUSTAKA

Farizal Nasution dan Asli Sembiring, Budaya Melayu, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Prop.Sumatera Utara.2007
T. Luckman Sinar Basarshah II, Adat Budaya Melayu Jati diri dan kepribadian, Forkala Prop. Sumatera Utara. 2005
T. Luckman Sinar Basarshah II,  Adat Perkawinan dan Tata Rias Pengantin Melayu, Lembaga dan Pengembangan Seni Budaya Melayu. Medan 1994
Drs. Ibrahim Yunit Albi, Drs. Syafwan Hadi Umri, Drs Rusli Ahmad MA, Adat Budaya Resam Melayu Batubara, Puri Delco
T. Luckman Sinar Basarshah II, Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur.
T. Luckman Sinar Basarshah II. Kebudayaan Melayu Sumatera Timur, Universitas Sumatera Utara Press. 1987
Tenas Efendi, Pemakaian Ungkapan dalam Upacara Perkawinan Orang Melayu, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Adicitra Yogya. 2004
Dra. Hernauli Sipayung, Drs. Tolen Sinuhaji, Tiominal Sihite, Ragam Hias Pakaian Pengantin Tradisional Sumatera Utara,  Museum Negeri Sumatera Utara. 1997
Muhammad Takari, Heristina Dewi, Budaya Musik dan Tarian Melayu Sumatera Utara, USU Press. 2008
T.H.M. Lah Husny, Adat-Budaya Melayu Pesisir Sumatera Timur,B.P.Husny 1972



























1 komentar:

  1. HIS Graha Elnusa Hubungi : 0822 – 9914 – 4728 (Rizky)
    Menikah adalah tujuan dan impian Semua orang, Melalui HIS Graha Elnusa Wedding Package , anda bisa mendapatkan paket lengkap mulai dari fasilitas gedung full ac, full carpet, dan lampu chandeliar yg cantik, catering dengan vendor yang berpengalaman, dekorasi, rias busana, musik entertainment, dan photoghraphy serta videography. Kenyaman dan kemewahan yang anda dapat adalah tujuan utama kami.

    BalasHapus